Padang – Bukittinngi (1)

Ini adalah perjalanan yg tidak diduga-2. Maksudnya, tidak ada dalam plan tahun 2010.

Berawal dari telp kakak sepupu suami, yang memberitahukan akan mengadakan acara pernikahan putrinya, annisa di bln November dimana acara nya akan di adakan di 2 tempat yaitu bogor dan padang, maka saya dan suami memutuskan untuk pergi ke padang sekalian melihat kampung halaman suami.

Mulai lah kami hunting tiket murmer. Acaranya sendiri tanggal 20 nov, 2010 tp kami sengaja berangkat lebih awal yaitu tgl 17 nov (bertepatan dengan hari raya idul adha).  Setelah cek dan ricek soal tiket, akhirnya didapatkan tiket pergi by GA jam 16.00 dan kembalinya tgl 21 nov by LION. Tiket 2 berdua PP sekitar 1.9jt. Untuk akomodasi kami berencana untuk menginap di rumah keluarga di bukit tinggi. Keluarga suami masih mempunyai rumah (warisan) disana. Karena  semua keluarga sudah tidak ada lagi yg tinggal di bukittingi. Rumah keluarga ini ada yang mengurus, namanya John. Orangnya cukup ramah. Dia sudah bertahun-2 menempati rumah disana, mengurus rumah dan mencatat administrasi rumah-2 yg disewakan di belakang rumah utama kami.

17 nov 2010

Pagi hari kami sekeluarga menunaikan sholat idul adha bersama, begitupun raza, yg tahun ini sudah berusia 2 thn. Untung raza cukup cooperative, saat kami semua sholat, dia duduk manis disamping saya. Selesai sholat kami pulang dan makan bersama. Jam 10.00 kami diantar ke prima jasa untuk berangkat menuju bandara soekarno hatta. Berat hati meninggalkan raza untuk kesekian kali. Tp menurutku itu lebih baik, karena menurut pertimbanganku, perjalanan ini terlalu jauh untuknya dan belum berarti apa-2 selain hanya capek. Apalagi sebelumnya, raza baru sembuh dari sakit.

Karena ini hari libur, perjalanan bdg-jkt  bisa ditempuh dlm 2 jam saja. Sekitar jam 12.30an kami sudah sampai di bandara. Karena waktu nya msh sangat lama, kami sempatkan dulu untuk makan dan sholat dulu. Setelah makan, kami segera check in. Setelah beres check in, kami berjalan ke ruang tunggu dan melewati beberapa executive lounge.  Iseng, kami pun masuk ke Executive lounge Garuda. Karena tiket kami kls ekonomi kami tidak bisa menunggu di sana, tp kami bisa memilih lounge lain yg ada di T2 Soekarno hatta dengan memakai fasilitas kartu kredit suami. Kebetulan suami mempunyai beberapa kartu kredit type gold. Maka kami pun leyeh-2 di lounge sambil menunggu waktu boarding. Lumayan enak…..

Jam 16.10, pesawat kami pun lepas landas menuju padang. Rencana mau beristirahat pun batal karena bnyk fasilitas pesawat yg bisa kami pergunakan selama perjalanan. Walhasil perjalanan selama kurang lebih 2 jam pun kami lalui dengan beragam aktifitas.

Hujan menyambut kami saat pesawat mendarat di bandara minangkabau sekitar jam 18.00. Ini merupakan bandara baru, dimana sebelumnya bandara padang bernama tabing. Setelah urusan bagasi selesai, kami keluar bandara untuk menunggu mobil yang akan menjemput kami.

Selama  4 hari di padang, kami telah menyewa mobil avanza. Harga rental mobil adalah 350rb/hr berikut sopir tapi tanpa bensin. Kebetulan dulu suami pernah mengerjakan proyek pembangunan BTS di daerah padang, maka kami mempunyai kenalan yg biasa menyewakan mobilnya. Selain menyewakan mobil, keluarga ini pun mempunyai kamar  yg disewakan sehingga hubungan suami dengan keluarga ini cukup dekat.

Setelah mobil datang, kami segera keluar bandara. Tujuan pertama kami adalah rumah keluarga pak edi, pemilik mobil yang kami sewa di daerah lubuk buaya.  Selain bersilahturahmi dengan keluarga tsb, kami akan menyelesaikan pembayaran untuk sewa mobil selama 4 hari tsb. Perjanjian semula adalah, kami menyewa mobil berikut sopir. Dikarenakan kondisi di padang dst belum terlalu aman dari bencana  tsunami. Oleh karena itu para pemilik kendaraan enggan menyewakan mobil tanpa disertai sopirnya karena khawatir , apabila terjadi tsunami atau gempa, mobil mereka akan ditinggal kan begitu saja. Jadi rencana awal adalah kami akan ke bukit tinggi bersama pak edi.

Karena hari sudah mulai malam, dan kamipun cukup lelah bila harus meneruskan perjalanan malam ini, maka kami memutuskan untuk bermalam di padang dulu. Sambil melihat-2 kota padang di waktu malam. Untuk malam ini, pak edi  tidak ikut bergabung dulu karena kami akan menginap di hotel sekitar padang.

Setelah berbasa basi sebentar dengan keluarga pak Edi , kami segera meluncur menuju pusat kota. Perjalanan menuju pusat kota sekitar 30 menit. Mungkin karena saat ini sedang hujan dan cuaca agak dingin, kota padang terasa sangat sepi dan gelap. Rasanya seperti kota mati, apalagi saat melintas di jalan utama dimana dulu berdiri hotel ambacang,  yang kemudian runtuh karena bencana tsunami dan gempa.

Reruntuhan nya masih ada. Malah hotel bumi minang  masih berdiri dengan kondisi yg memprihatinkan. Dibongkar tidak, di renovasi juga belum, sehingga saat saya melihat agak terasa seram, karena terbayang pada saat musibah terjadi.

Pindah ke jalan di sekitaran pantai, suasananya sama. Sepi dan gelap. Menurut suami, saat terakhir  ke padang, awal 2009, suasana disekitar pantai ini sangat ramai. Di pinggir pantai banyak rumah makan yg menyediakan seafood dan di sebrangnya ada banyak hotel-2. Tp saat itu kami agak kesulitan mencari hotel . Ada sih hotel yg lumayan besar, tp saat kami masuk, suasana di ruang lobby nya agak-2 sumpek dan kami membatalkan untuk menginap disana. Akhirnya kami menemukan hotel kecil, mungkin semacam boutique hotel (krn jumlah kamar yg tidak terlalu banyak).Namanya Savali Hotel.  Hotelnya bergaya minimalis. Bersih dan wangi dan sedikit unik. Ratenya pun lumayan mahal. Pertama kami diberikan harga yg cukup tinggi yaitu 700rb untuk kamar deluxe + BF. Setelah kami tawar harga kamar menjadi 420rb. Kami pun memutuskan untuk menginap ditempat ini.

 

 

 

Setelah menaruh barang, kami langsung keluar lagi untuk mencari makan malam. Kali ini pilihan kami adalah makan seafood di pinggir pantai. Karena hari sudah semakin malam, pilihan rumah makan pun terbatas, tapi kami memilih rumah makan yg penerangan nya masih menyala semua. Karena kalau yg remang-2 gitu kami tidak bisa memilih makanan dengan jelas. Apakah makanan itu masih segar atau tidak.

Pilihan jatuh kepada  rumah makan berjudul ombak puruih. Kami memesan 2 porsi udang bakar,  cumi, nasi dan teh  panas. Beruntung, pesanan kami malam itu tidak mengecewakan, bahkan bisa dibilang enak. Udangnya besar-2. 1 porsi berisi 4 ekor. Bumbunya enak, agak pedas khas padang. Kami sampai kewalahan menghabiskan udangnya, karena 8 ekor disantap berdua plus cumi. Harganya pun cukup murah, untuk semua itu kami hanya membayar sekitar 130rb. Alhasil, malam ini kami tidur dengan perut kenyang dan hati senang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s